Saturday, 26 September 2026

CEO Danantara Rosan Rayu Investor Bangun R&D di Indonesia: Beri Insentif Pajak Hingga 300 Persen

CEO Danantara Rosan Rayu Investor Bangun R&D di Indonesia: Beri Insentif Pajak Hingga 300 Persen

Pemerintah Indonesia melalui Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan P. Roeslani, meluncurkan manuver strategis untuk mengubah wajah ekonomi nasional. Dalam ajang Jakarta Investment Festival (JIF) Summit 2026 di Hotel Shangri-La Jakarta, Rosan menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak lagi sekadar menjadi pasar bagi produk global, melainkan bertransformasi menjadi pusat inovasi dan riset dunia. Langkah konkret yang ditawarkan adalah insentif pajak "super" yang mencapai 300 persen bagi perusahaan yang bersedia menanamkan modal pada kegiatan penelitian dan pengembangan (R&D) di dalam negeri.

Insentif fantastis ini dirancang sebagai bentuk stimulus fiskal yang agresif guna mendorong perusahaan multinasional maupun domestik agar memindahkan pusat riset mereka ke Indonesia. Tidak berhenti di situ, Rosan juga mengungkapkan bahwa pemerintah menyiapkan insentif sebesar 200 persen bagi perusahaan yang memberikan fokus tinggi pada program pelatihan vokasi dan pendidikan sumber daya manusia. Kebijakan ini merupakan bagian dari cetak biru besar Indonesia untuk memperkuat ekosistem riset nasional sekaligus meningkatkan kualitas tenaga kerja agar selaras dengan kebutuhan industri masa depan.

Menurut Rosan, kebijakan ini adalah langkah afirmatif yang sangat krusial. Selama ini, banyak perusahaan besar hanya mendirikan unit manufaktur atau kantor pemasaran di Indonesia. Dengan adanya insentif pajak hingga 300 persen untuk R&D, pemerintah berharap terjadi transfer teknologi yang lebih masif. "Jika perusahaan melakukan penelitian dan pengembangan di Indonesia, kami bisa memberikan insentif hingga 300 persen. Ini adalah tawaran bagi investor yang ingin membangun basis inovasi jangka panjang di sini," ujar Rosan dalam paparannya.

Strategi ini bukan tanpa alasan. Pemerintah menyadari bahwa untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap), Indonesia harus bergerak dari industri berbasis komoditas mentah menuju industri bernilai tambah tinggi yang didorong oleh inovasi. Dengan memiliki fasilitas R&D di Indonesia, perusahaan akan lebih terikat secara strategis dengan pasar lokal, sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi ribuan peneliti dan insinyur berbakat dari universitas-universitas dalam negeri.

Menuju Pusat Data dan Ekonomi Digital Global

Selain berfokus pada R&D, Rosan memaparkan peta jalan investasi yang lebih luas, terutama pada sektor ekonomi digital dan infrastruktur teknologi. Indonesia saat ini tengah berada dalam tren pertumbuhan ekonomi digital yang sangat pesat, dengan proyeksi nilai transaksi mencapai 360 miliar dollar AS pada tahun 2030. Jakarta, sebagai episentrum ekonomi, kini telah bertransformasi menjadi pusat data utama yang menarik minat raksasa teknologi dunia.

"Kami ingin infrastruktur generasi berikutnya yang siap untuk kecerdasan buatan (AI) dibangun di sini," tegas Rosan. Untuk mendukung ambisi tersebut, pemerintah tidak hanya mengandalkan kemudahan perizinan, tetapi juga memastikan ketersediaan energi yang berkelanjutan. Transformasi digital memerlukan konsumsi energi yang sangat besar, dan Indonesia memiliki keunggulan kompetitif berupa potensi energi terbarukan yang melimpah.

Data Kementerian ESDM mencatat potensi energi terbarukan nasional mencapai 3.600 gigawatt (GW), yang bersumber dari panas bumi, tenaga surya, air, hingga bayu. Namun, saat ini kapasitas terpasang baru mencapai 15,1 GW, atau kurang dari 1 persen dari total potensi yang ada. Ketimpangan antara potensi dan realisasi ini dipandang Rosan sebagai peluang emas bagi investor untuk terlibat dalam transisi energi. Membangun pusat data yang ditenagai oleh energi hijau (Green Data Center) menjadi daya tarik tersendiri bagi investor global yang memiliki target net zero emission dalam rantai pasok mereka.

Danantara dan Proyek Strategis Waste to Energy

Di luar sektor digital dan manufaktur, Danantara—lembaga pengelola investasi negara—tengah tancap gas dalam menggarap proyek waste to energy (WTE) atau pengolahan sampah menjadi energi. Rosan mengungkapkan bahwa Danantara saat ini tengah mengawal pipeline proyek WTE di lebih dari 30 lokasi strategis di seluruh Indonesia. Total nilai investasi yang disiapkan untuk sektor ini mencapai 5 miliar dollar AS.

Proyek WTE ini dipandang sebagai solusi ganda bagi masalah perkotaan. Di satu sisi, Indonesia menghadapi tantangan pengelolaan sampah yang semakin kompleks, terutama di kota-kota besar. Di sisi lain, kebutuhan akan energi listrik yang bersih terus meningkat. Dengan teknologi pengolahan sampah modern, limbah yang selama ini menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) dapat dikonversi menjadi sumber listrik yang stabil dan berkelanjutan.

Khusus untuk DKI Jakarta, Rosan menyatakan bahwa Danantara saat ini sedang melakukan diskusi intensif dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait pengembangan fasilitas WTE berskala besar. Langkah ini diharapkan mampu mengurai permasalahan sampah ibu kota sekaligus menjadi model percontohan bagi kota-kota besar lainnya di Indonesia. Dengan dukungan pembiayaan dari Danantara, risiko investasi yang biasanya menjadi hambatan utama dalam proyek infrastruktur publik dapat dimitigasi dengan lebih baik.

Membangun Iklim Investasi yang Terprediksi

Keberhasilan berbagai program investasi tersebut sangat bergantung pada kepercayaan investor terhadap iklim bisnis di Indonesia. Rosan menyadari sepenuhnya bahwa insentif pajak hanyalah salah satu instrumen. Faktor penentu lainnya adalah kepastian hukum, kemudahan birokrasi, dan stabilitas regulasi.

Pemerintah, lanjut Rosan, berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan iklim investasi melalui percepatan perizinan yang berbasis pada sistem digital terintegrasi. Hal ini dilakukan untuk memangkas waktu tunggu investor sejak tahap perencanaan hingga konstruksi. Selain itu, sinkronisasi aturan antara pemerintah pusat dan daerah terus diperketat agar tidak ada lagi hambatan regulasi yang tumpang tindih.

"Komitmen kami sangat jelas. Kami siap bermitra dengan investor, memobilisasi modal, dan membantu mengubah proyek-proyek strategis menjadi kenyataan. Kami ingin memastikan bahwa setiap investor yang masuk ke Indonesia mendapatkan lingkungan bisnis yang lebih terprediksi, transparan, dan menguntungkan dalam jangka panjang," tutup Rosan.

Dengan kebijakan insentif pajak 300 persen untuk R&D, fokus pada energi terbarukan, serta dukungan aktif dari Danantara dalam proyek infrastruktur strategis, Indonesia kini memposisikan diri sebagai destinasi investasi yang lebih canggih dan kompetitif di kawasan Asia Tenggara. Langkah ini diharapkan tidak hanya mendongkrak pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, tetapi juga meletakkan fondasi bagi Indonesia yang berdaya saing global melalui penguasaan teknologi dan kemandirian energi. Investor yang masuk di masa ini bukan hanya sekadar penanam modal, melainkan mitra strategis bagi Indonesia untuk melompat menuju era industrialisasi berbasis riset dan inovasi yang berkelanjutan.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *