Friday, 25 September 2026

F&B ID Kawan Lama Group Perkuat Portofolio, Kini Kelola Lebih dari 400 Gerai

F&B ID Kawan Lama Group Perkuat Portofolio, Kini Kelola Lebih dari 400 Gerai

PT Foods Beverages Indonesia (F&B ID), unit bisnis strategis di bawah naungan Kawan Lama Group, kini mengukuhkan posisinya sebagai pemain kunci dalam industri kuliner tanah air dengan mengoperasikan lebih dari 400 gerai yang tersebar luas di seluruh pelosok Indonesia. Pencapaian ini menjadi tonggak sejarah penting setelah lebih dari 15 tahun perusahaan berkecimpung dalam industri Food and Beverage (F&B), di mana mereka terus memposisikan diri sebagai Curator & Creator of Global Flavours. Keberhasilan ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari transformasi perusahaan yang adaptif dalam membaca selera pasar yang terus berubah.

Portofolio F&B ID saat ini mencakup spektrum yang luas, mulai dari kategori minuman kekinian, camilan ringan, hingga restoran dengan konsep dine-in yang nyaman. Perjalanan panjang perusahaan ini dimulai pada tahun 2011 saat mereka membawa Chatime ke Indonesia. Kehadiran Chatime menjadi katalisator bagi pertumbuhan perusahaan, yang kemudian disusul oleh deretan merek internasional lainnya seperti Chatime Atealier, Cupbop, Gindaco, Go! Go! CURRY! – Genki No Minamoto, 88 SEOUL, hingga jenama terbaru seperti Molly Tea. Setiap jenama tersebut dikelola dengan pendekatan kurasi yang ketat guna memastikan kesesuaian dengan lidah lokal.

CEO F&B ID, Devin Widya Krisnadi, menekankan bahwa perubahan gaya hidup dan preferensi konsumen adalah motor utama di balik setiap inovasi yang dilakukan perusahaan. Menurut Devin, industri F&B di Indonesia adalah pasar yang sangat dinamis dan kompetitif. "Industri F&B terus berkembang seiring perubahan preferensi dan gaya hidup konsumen. Bagi kami, dinamika tersebut membuka ruang untuk membangun bisnis yang tidak hanya mengikuti perkembangan pasar, tetapi juga mampu mengantisipasi kebutuhan dan menciptakan peluang baru," ujar Devin. Baginya, pengembangan bisnis tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek, melainkan harus memiliki visi jangka panjang yang berkelanjutan.

Strategi kurasi yang diterapkan oleh F&B ID memang tergolong unik. Perusahaan tidak serta-merta mengambil merek yang sedang populer secara global, namun mereka melakukan riset mendalam mengenai relevansi karakter, kesesuaian produk dengan bahan baku lokal, hingga pengalaman unik yang ditawarkan oleh merek tersebut bagi konsumen di Indonesia. Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa setiap gerai yang dibuka memberikan nilai tambah bagi pelanggan, bukan sekadar mengikuti tren sesaat.

Marketing General Manager F&B Indonesia, Sarah Katherine Merci, menambahkan bahwa pengalaman konsumen (customer experience) adalah jantung dari strategi pengembangan merek mereka. Menurut Sarah, sebuah merek tidak hanya dinilai dari rasa makanannya, tetapi juga bagaimana merek tersebut berkomunikasi, berkampanye, serta bagaimana atmosfer di dalam gerai dibangun untuk memberikan kesan mendalam. "Kami percaya bahwa pengalaman yang kuat dimulai dari kemampuan memahami apa yang membuat sebuah brand menarik bagi konsumennya," jelas Sarah. Hal ini diterjemahkan melalui inovasi produk yang berkelanjutan, strategi komunikasi yang tepat sasaran, hingga storytelling yang memperkuat koneksi emosional antara merek dengan pelanggan.

Sebagai bukti konkret dari strategi adaptif tersebut, F&B ID baru-baru ini melakukan pengembangan signifikan pada jenama Gindaco. Mereka memperkenalkan konsep Gindaco Yokocho yang mengusung atmosfer Japanese street food alley. Konsep ini membawa pengalaman unik bagi konsumen, di mana mereka tidak hanya sekadar membeli takoyaki, tetapi seolah-olah dibawa ke suasana gang jajanan khas Jepang yang autentik. Inovasi atmosfer gerai ini menjadi strategi untuk membedakan diri di tengah menjamurnya gerai makanan Jepang di Indonesia.

Selain memperkuat lini yang sudah ada, F&B ID juga menunjukkan keberaniannya dalam melakukan ekspansi kategori. Salah satu langkah terbarunya adalah menghadirkan M Stand, sebuah merek kopi premium asal Shanghai, ke pasar Indonesia. Kehadiran M Stand diharapkan mampu membawa standar baru dalam gaya hidup kopi di tanah air, dengan karakter yang berbeda dari gerai kopi yang sudah ada sebelumnya. Keputusan untuk membawa M Stand menunjukkan bahwa F&B ID terus mencari celah pasar baru yang belum tergarap secara maksimal.

Di balik pertumbuhan yang pesat ini, terdapat kapabilitas internal yang sangat terintegrasi. F&B ID telah membangun fondasi yang kuat, mulai dari sistem centralized supply chain yang menjamin konsistensi kualitas bahan baku di setiap gerai, penggunaan teknologi data analitik untuk penentuan lokasi gerai yang strategis, hingga penguatan operasional harian yang terstandarisasi. Fondasi operasional ini sangat krusial, terutama ketika perusahaan memutuskan untuk melakukan ekspansi ke berbagai kota di luar Pulau Jawa yang memiliki tantangan logistik tersendiri.

Teknologi dan data memainkan peran sentral dalam pengambilan keputusan di F&B ID. Perusahaan memanfaatkan data transaksi untuk memahami pola konsumsi pelanggan, yang kemudian digunakan sebagai basis dalam menentukan menu baru, strategi promosi, hingga penyesuaian jam operasional gerai. Dengan 400 gerai yang beroperasi, manajemen data yang efisien menjadi kunci untuk menjaga profitabilitas dan efisiensi biaya di tengah fluktuasi harga bahan baku.

Lebih jauh lagi, F&B ID juga berkomitmen untuk menciptakan ekosistem bisnis yang memiliki kemampuan untuk terus berevolusi. Devin Widya Krisnadi menambahkan bahwa tujuan akhir mereka bukan sekadar memiliki banyak gerai, melainkan memastikan bahwa setiap brand dalam portofolio mereka memiliki ruang untuk tumbuh sesuai dengan potensi maksimalnya. "Kami ingin setiap brand dalam portofolio memiliki ruang untuk berkembang sesuai potensinya. Kami membangun bisnis yang mampu beradaptasi dengan zaman, bukan bisnis yang kaku dan tertinggal oleh waktu," pungkasnya.

Pertumbuhan F&B ID juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja yang masif. Sebagai bagian dari Kawan Lama Group, perusahaan ini menjalankan standar pelatihan yang ketat bagi para staf gerai atau yang dikenal dengan istilah barista atau crew. Pelatihan ini tidak hanya mencakup keterampilan teknis pembuatan produk, tetapi juga pelayanan pelanggan (service excellence) yang menjadi salah satu pilar kekuatan mereka dalam menjaga loyalitas konsumen.

Ke depan, F&B ID diprediksi akan terus melakukan ekspansi baik secara organik melalui penambahan jumlah gerai maupun anorganik melalui akuisisi atau kemitraan strategis dengan merek global lainnya. Dengan semakin matangnya infrastruktur perusahaan, F&B ID berada di posisi yang sangat menguntungkan untuk memimpin pasar kuliner modern di Indonesia. Sektor F&B yang kini terus pulih dan bertumbuh pasca-pandemi memberikan momentum yang tepat bagi F&B ID untuk memperluas jangkauan mereka hingga ke kota-kota tier dua dan tiga yang kini mulai memiliki daya beli tinggi terhadap gaya hidup kuliner modern.

Keberhasilan F&B ID dalam mengelola lebih dari 400 gerai dengan berbagai konsep yang beragam membuktikan bahwa mereka bukan sekadar operator gerai makanan, melainkan pembuat tren yang mampu membaca arah angin industri kuliner. Sinergi antara pemahaman mendalam tentang selera konsumen, kapabilitas operasional yang mumpuni, serta keberanian untuk berinovasi menjadi formula sukses bagi F&B ID untuk terus menjadi pemimpin pasar dalam tahun-tahun mendatang. Sebagai entitas yang terus bertumbuh, F&B ID kini telah menetapkan standar baru bagi perusahaan makanan dan minuman di Indonesia dalam hal skala, kualitas, dan keberagaman pengalaman yang ditawarkan kepada jutaan pelanggannya setiap hari.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *