Friday, 25 September 2026

Melejit ke US$1,5 Miliar, Coda dan EKRAF Bersinergi Dorong Potensi Industri Game Indonesia

Melejit ke US$1,5 Miliar, Coda dan EKRAF Bersinergi Dorong Potensi Industri Game Indonesia

Industri game nasional kini berada di ambang era keemasan dengan proyeksi pendapatan yang menembus angka US$1,5 miliar pada tahun 2030, sebuah lonjakan signifikan dari capaian US$1,1 miliar pada tahun 2025. Menyadari potensi raksasa ini, Coda, perusahaan penyedia layanan perdagangan digital global, resmi menjalin kemitraan strategis melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (EKRAF) Republik Indonesia. Sinergi ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah taktis untuk mempercepat akselerasi ekosistem game tanah air agar mampu bertransformasi dari sekadar pasar konsumsi menjadi pusat inovasi kreatif yang mandiri dan kompetitif di kancah global.

Kemitraan ini dirancang untuk membekali para pengembang (developer) game lokal dengan tiga pilar utama: transfer pengetahuan, akses perangkat teknologi terkini, dan kapabilitas komersial yang mumpuni. Kolaborasi antara EKRAF dan Coda akan fokus pada penguatan kapasitas studio game lokal untuk membangun model bisnis yang berkelanjutan, memperluas jangkauan pasar, serta memitigasi risiko operasional dalam ekosistem digital yang semakin kompleks. Langkah ini sejalan dengan visi besar pemerintah dalam menjadikan Kekayaan Intelektual (KI) sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru yang mampu memberikan nilai tambah signifikan bagi Produk Domestik Bruto (PDB) kreatif Indonesia.

Pergeseran perilaku konsumen di Asia Tenggara menjadi latar belakang krusial dalam kebijakan ini. Data menunjukkan adanya perubahan dramatis dalam pola transaksi digital. Penggunaan metode pembayaran di luar aplikasi (out-of-app payments) kini mendominasi dengan kontribusi mencapai 38% dari total pendapatan game seluler, meningkat tajam dari angka 21% dua tahun lalu. Fenomena ini menunjukkan bahwa pemain game semakin cerdas dan menginginkan fleksibilitas dalam melakukan transaksi. Dompet digital (e-wallet) kini memimpin sebagai metode pembayaran favorit yang diadopsi oleh 55% pemain game seluler berbayar di kawasan ini. Di sisi lain, carrier billing atau metode potong pulsa tetap menjadi pilar pendukung yang stabil, digunakan oleh hampir satu dari empat pemain. Coda, dengan keahliannya dalam menyediakan infrastruktur pembayaran global, berkomitmen penuh untuk mengintegrasikan solusi-solusi ini agar developer lokal dapat menangkap peluang emas tersebut tanpa hambatan teknis.

Komitmen ini bukanlah langkah pertama yang diambil oleh Coda di Indonesia. Sebelumnya, perusahaan telah membuktikan dedikasinya melalui berbagai inisiatif konkret, seperti pendampingan bagi lebih dari 70 developer lokal dalam ajang Global Game Jam Pre-Workshop di Jakarta. Selain itu, Coda aktif memperluas kanal distribusi produk game lokal ke mancanegara melalui platform Codashop dan menjalankan kampanye literasi digital bertajuk “Guard Your Game” untuk memberikan edukasi mengenai keamanan transaksi serta pencegahan penipuan daring. Inisiatif-inisiatif ini mencerminkan filosofi Coda yang menempatkan Indonesia sebagai bagian fundamental dari sejarah dan masa depan perusahaan.

CEO Coda, Shane Happach, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki tempat istimewa bagi perusahaan yang kini berkantor pusat di Singapura tersebut. “Indonesia adalah rumah bagi komunitas pengembang game yang sangat dinamis dan tumbuh dengan kecepatan luar biasa. Kami merasa bangga dapat kembali berkontribusi bagi tanah air tempat Coda pertama kali dilahirkan. Melalui kemitraan dengan EKRAF, tujuan kami adalah membantu pengembang menavigasi perjalanan bisnis mereka yang menantang, membangun fondasi studio yang berkelanjutan, dan memastikan karya mereka dapat diakses serta dinikmati oleh jutaan pemain di seluruh dunia,” ujar Shane pada Jumat (26/6/2026).

Melejit ke US$1,5 Miliar, Coda dan EKRAF Bersinergi Dorong Potensi Industri Game Indonesia

Senada dengan hal tersebut, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menekankan bahwa pemerintah kini tidak lagi sekadar menjadi regulator, melainkan mitra aktif bagi para kreator. “Bagi setiap pengembang game di Indonesia, negara ini harus menjadi batu loncatan yang kuat. Kami ingin membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia bukan hanya pasar besar bagi produk asing, melainkan rumah bagi kreator berkelas dunia. Melalui penguatan ekosistem ini, kita ingin memastikan bahwa developer lokal mampu memenangkan persaingan di pasar global dengan kualitas produk yang mumpuni dan strategi komersial yang cerdas,” tegas Irene.

Pentingnya Indonesia bagi peta bisnis global Coda tercermin jelas dalam angka-angka statistik perusahaan. Hingga saat ini, Coda telah beroperasi di lebih dari 80 pasar internasional dengan dukungan 400 metode pembayaran melalui solusi andalannya seperti Coda Webstore, Codapay, dan Codashop. Dari seluruh portofolio global tersebut, Indonesia menjadi kontributor terbesar dengan porsi mencapai 22% dari total pendapatan perusahaan. Statistik dari periode Mei 2025 hingga Maret 2026 menunjukkan performa yang impresif, di mana platform Codashop Indonesia mencatatkan rata-rata lebih dari 13 juta kunjungan per bulan dengan lebih dari 1 juta pembeli aktif yang melakukan transaksi secara rutin.

Keberhasilan ini menjadi modal dasar bagi kedua pihak untuk mengekspansi program ke depan. Fokus ke depan tidak hanya terbatas pada transaksi pembayaran, tetapi juga mencakup aspek pemasaran digital, analisis data perilaku pemain, dan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual bagi para pengembang game. Dengan dukungan infrastruktur dari Coda dan kebijakan strategis dari EKRAF, diharapkan tercipta sebuah ekosistem yang kondusif bagi munculnya studio-studio game Indonesia yang mampu menciptakan IP (Intellectual Property) ikonik yang dikenal di pasar internasional.

Lebih jauh lagi, sinergi ini juga diharapkan dapat memicu pertumbuhan talenta-talenta digital baru. Industri game adalah salah satu sektor yang paling padat karya dalam ekonomi kreatif, membutuhkan kolaborasi lintas disiplin mulai dari seniman visual, pemrogram, penulis naskah, hingga ahli pemasaran digital. Dengan ekosistem yang matang, Indonesia akan mampu menyerap tenaga kerja kreatif dalam jumlah besar dan mengurangi ketergantungan pada impor game luar negeri.

Di tengah persaingan industri game global yang semakin ketat, peran pemerintah dalam memfasilitasi akses pasar dan peran sektor swasta dalam menyediakan infrastruktur pembayaran yang efisien menjadi kunci kemenangan. Kolaborasi Coda dan EKRAF ini menandai babak baru bagi industri game Indonesia. Kini, mata dunia mulai melirik Indonesia tidak hanya sebagai negara dengan populasi gamer yang masif, tetapi juga sebagai kekuatan baru yang patut diperhitungkan dalam peta industri game dunia. Dengan komitmen yang kuat dan eksekusi yang tepat, mimpi untuk membawa game karya anak bangsa merajai pasar internasional bukanlah sekadar angan, melainkan target yang sangat realistis untuk dicapai dalam lima tahun ke depan.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *