Menperin Agus: Industri Manufaktur Tetap Jadi Penopang Ekonomi Nasional
Di tengah berbagai tantangan dan dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, sektor industri pengolahan manufaktur nasional kembali membuktikan ketangguhannya sebagai tulang punggung utama perekonomian Indonesia. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita secara tegas menyatakan bahwa peran strategis sektor manufaktur tidak hanya sekadar menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga menjadi motor penggerak utama pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan di masa depan.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), performa industri pengolahan nonmigas pada Triwulan II-2026 mencatatkan capaian impresif dengan pertumbuhan sebesar 5,32 persen secara year-on-year (y-o-y). Angka pertumbuhan ini melampaui capaian pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,29 persen. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi dan penguatan basis industri dalam negeri yang dijalankan pemerintah mulai membuahkan hasil nyata, sekaligus membuktikan bahwa sektor manufaktur memiliki daya tahan yang lebih kuat dibandingkan sektor-sektor lainnya dalam menghadapi guncangan eksternal.
Lebih jauh lagi, industri pengolahan nonmigas kini telah mengukuhkan posisinya sebagai kontributor terbesar bagi pertumbuhan ekonomi nasional dengan menyumbang sebesar 0,97 poin persentase terhadap total pertumbuhan PDB. "Kontribusi sektor ini terhadap PDB nasional mencapai 16,83 persen atau setara dengan Rp1.102,88 triliun. Angka ini menegaskan bahwa setiap rupiah yang dihasilkan dari sektor manufaktur memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang sangat luas bagi ekosistem ekonomi kita," ujar Menperin Agus Gumiwang dalam keterangannya di Jakarta.
Besarnya kontribusi tersebut tidak terlepas dari tingginya kepercayaan investor terhadap iklim industri di Indonesia. Dari sisi investasi, realisasi penanaman modal pada sektor industri pengolahan nonmigas selama Triwulan II-2026 telah menembus angka Rp199,48 triliun. Angka tersebut setara dengan 38,98 persen dari total realisasi investasi nasional secara keseluruhan. Investasi yang besar ini mencerminkan optimisme para pelaku usaha terhadap prospek pasar domestik serta efektivitas berbagai kemudahan regulasi yang diberikan pemerintah, seperti melalui Undang-Undang Cipta Kerja dan berbagai insentif fiskal yang ditujukan bagi industri padat karya dan berteknologi tinggi.
Dalam konteks perdagangan luar negeri, industri pengolahan nonmigas juga tetap menjadi primadona ekspor nasional. Sepanjang periode Januari hingga Juni 2026, nilai ekspor dari sektor ini berhasil mencapai USD115,50 miliar. Nilai ini mencakup 82,03 persen dari total ekspor nasional. Dominasi ini menunjukkan bahwa produk-produk manufaktur Indonesia semakin berdaya saing di pasar internasional, mulai dari produk berbasis agro, otomotif, hingga komponen elektronik yang terus merambah pasar global. Keberhasilan ini juga menjadi bukti bahwa transformasi dari ekspor komoditas mentah menuju produk bernilai tambah tinggi telah berjalan sesuai jalur.
Selain memberikan kontribusi besar pada neraca perdagangan, sektor manufaktur juga memainkan peran krusial sebagai penyerap tenaga kerja terbesar. Merujuk pada data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS edisi Februari 2026, sektor industri pengolahan telah berhasil menyerap sekitar 19,99 juta tenaga kerja. Angka penyerapan tenaga kerja yang masif ini menjadi bukti bahwa industrialisasi adalah kunci utama dalam menekan angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas. Dengan adanya 19,99 juta tenaga kerja di sektor ini, industri manufaktur telah menjadi jaring pengaman sosial yang vital bagi jutaan keluarga di Indonesia.
Optimisme mengenai prospek industri manufaktur juga terlihat dari indikator aktivitas industri terkini. PMI Manufaktur Indonesia menunjukkan pemulihan yang signifikan, di mana indeks tersebut meningkat dari 46,9 pada bulan Juni menjadi 50,2 pada Juli 2026. Dengan angka di atas 50, artinya sektor manufaktur Indonesia telah kembali memasuki zona ekspansi. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan permintaan, baik dari sisi konsumsi rumah tangga maupun pesanan dari luar negeri, yang mendorong pelaku industri untuk kembali meningkatkan kapasitas produksinya.
Selaras dengan PMI Manufaktur, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) juga menunjukkan tren yang sama. Pada periode yang sama, IKI mencatatkan kenaikan dari 52,9 menjadi 53,1. Indeks ini mencerminkan optimisme para pelaku industri terhadap kondisi bisnis mereka ke depan. Kenaikan IKI ini didorong oleh persepsi pelaku industri mengenai kondisi ekonomi nasional yang semakin stabil, kebijakan suku bunga yang lebih bersahabat, serta kelancaran rantai pasok bahan baku yang terus dijaga oleh pemerintah melalui berbagai koordinasi lintas kementerian.
Menperin Agus menambahkan bahwa untuk menjaga momentum pertumbuhan ini, pemerintah berkomitmen untuk terus melakukan pendalaman struktur industri. Fokus utama saat ini adalah memperkuat rantai pasok lokal agar ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat terus ditekan. Langkah ini dilakukan melalui penguatan industri antara dan industri hulu, sehingga ekosistem manufaktur di Indonesia menjadi lebih mandiri dan tidak mudah terpengaruh oleh gejolak pasar global.
Selain itu, pemerintah juga sedang mendorong percepatan digitalisasi industri melalui program "Making Indonesia 4.0". Implementasi teknologi digital, internet of things (IoT), dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam proses produksi diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri nasional. Dengan produktivitas yang lebih tinggi, daya saing produk Indonesia di pasar global akan semakin kokoh, yang pada akhirnya akan meningkatkan volume ekspor dan mendatangkan devisa lebih besar bagi negara.
Tantangan ke depan, menurut Agus, adalah bagaimana memastikan bahwa sektor manufaktur tetap inklusif. Artinya, pertumbuhan industri tidak boleh hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa, tetapi harus menyebar ke seluruh pelosok tanah air melalui pembangunan kawasan-kawasan industri baru di luar Jawa. Pemerintah telah menyediakan berbagai fasilitas di kawasan industri tersebut untuk menarik investor agar mau membangun pabrik di wilayah yang lebih dekat dengan sumber bahan baku, sehingga biaya logistik dapat ditekan dan kesenjangan ekonomi antarwilayah dapat dikurangi.
Menperin juga menyoroti pentingnya aspek keberlanjutan atau green industry. Ke depan, industri manufaktur dituntut untuk semakin ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan tren global yang semakin peduli terhadap isu perubahan iklim. Industri yang mampu mengadopsi prinsip ekonomi sirkular dan menggunakan energi baru terbarukan (EBT) akan memiliki nilai tambah yang lebih besar di mata konsumen global. Pemerintah sendiri telah menyiapkan kerangka regulasi untuk mendukung transisi energi di sektor industri, termasuk pemberian insentif bagi perusahaan yang mampu menurunkan emisi karbon dalam proses produksinya.
Sebagai penutup, Agus Gumiwang menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan dunia pendidikan menjadi kunci keberhasilan industri manufaktur. Sinergi ini diperlukan untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang terampil dan sesuai dengan kebutuhan industri masa depan. Dengan ketersediaan tenaga kerja yang kompeten, didukung oleh investasi yang terus mengalir dan kebijakan yang berpihak pada industri domestik, Menperin yakin bahwa industri manufaktur akan tetap menjadi jangkar yang kokoh bagi ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian dunia. "Industri manufaktur bukan hanya sekadar angka-angka di atas kertas, melainkan mesin utama yang memastikan Indonesia mampu bertransformasi menjadi negara maju dan berdaya saing tinggi di kancah internasional," pungkas Agus.
