Perpusnas Dorong Perpustakaan Daerah Lebih Aktif, Usai Raih Penghargaan AHI 2026
Keberhasilan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) dalam meraih penghargaan Bronze Winner pada ajang Anugerah Humas Indonesia (AHI) 2026 bukan sekadar pencapaian administratif bagi institusi tersebut. Prestasi yang diraih melalui program "Kilas Perpusnas" ini menjadi momentum strategis bagi Perpusnas untuk memacu semangat perpustakaan daerah di seluruh pelosok tanah air agar lebih progresif dalam membangun komunikasi publik yang kreatif, transparan, dan memiliki dampak nyata bagi literasi masyarakat luas.
Malam penganugerahan AHI 2026 yang berlangsung khidmat di Balai Tawangarum, Kompleks Balai Kota Surakarta, Jawa Tengah, pada Kamis (8/10/2026), menjadi saksi bagaimana dedikasi Perpusnas dalam mengelola arus informasi diapresiasi oleh para pakar kehumasan. Penghargaan untuk kategori Program Kehumasan Pemerintah, subkategori Lembaga Negara ini, menegaskan bahwa peran humas di era disrupsi digital tidak lagi hanya sekadar menyebarkan siaran pers, melainkan menjadi jembatan utama antara kebijakan pemerintah dengan kebutuhan informasi masyarakat.
Founder dan CEO HUMAS INDONESIA, Asmono Wikan, dalam kesempatan tersebut memberikan apresiasi mendalam terhadap strategi komunikasi yang dijalankan oleh Perpusnas. Menurutnya, keberhasilan Perpusnas membuktikan bahwa komunikasi publik adalah instrumen krusial dalam mendukung keterbukaan informasi sekaligus memperkuat ekosistem literasi nasional. Asmono menyoroti bahwa di era informasi yang sangat dinamis ini, kemampuan sebuah lembaga untuk mengemas program menjadi konten yang mudah dipahami dan diakses adalah sebuah keharusan.
"Saya kira ini adalah langkah yang sangat positif. Perpusnas secara konsisten mendorong agar isu komunikasi publik yang transparan dan prinsip keterbukaan informasi harus diangkat serta diimplementasikan secara luas. Keberhasilan ini seharusnya menjadi katalisator bagi perpustakaan di tingkat daerah untuk mulai mengoptimalkan potensi komunikasi publik yang mereka miliki," ujar Asmono seusai menerima penghargaan tersebut.
Lebih jauh, Asmono menekankan bahwa perpustakaan daerah sering kali memiliki segudang program unggulan yang sangat bermanfaat, namun terkendala dalam penyampaian pesan ke masyarakat luas. Ia berharap, keberhasilan Perpusnas ini dapat menjadi model atau best practice agar perpustakaan daerah lebih percaya diri dalam mempromosikan berbagai layanan, kegiatan, serta inovasi literasi yang mereka jalankan. Komunikasi publik yang efektif, lanjut Asmono, akan mengubah citra perpustakaan dari sekadar tempat penyimpanan buku menjadi pusat interaksi sosial dan pengembangan diri yang modern.
Program "Kilas Perpusnas" yang menjadi tulang punggung keberhasilan ini merupakan manifestasi dari transformasi digital di tubuh Perpusnas. Program ini dirancang untuk menyajikan rangkuman informasi mengenai berbagai kegiatan, program kerja, serta layanan perpustakaan secara berkelanjutan melalui kanal-kanal digital. Dengan gaya penyampaian yang informatif namun tetap ringan, Kilas Perpusnas mampu menjangkau audiens dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, pelajar, hingga masyarakat umum yang membutuhkan akses pengetahuan dengan cara yang lebih praktis.
Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, yang menerima langsung penghargaan tersebut, menyatakan bahwa pengakuan ini merupakan hasil dari kerja keras kolektif Tim Humas Perpusnas yang secara konsisten berupaya memperkuat komunikasi publik. Menurut Joko, tantangan terbesar bagi sebuah lembaga negara saat ini adalah bagaimana memastikan kebijakan dan program kerja tersampaikan dengan akurat dan dapat diterima oleh publik tanpa sekat birokrasi yang kaku.
"Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan sekaligus penyemangat bagi kami untuk terus memperluas akses masyarakat terhadap informasi dan pengetahuan. Melalui program ‘Kilas Perpusnas’, kami berupaya menghadirkan informasi yang relevan mengenai berbagai program, kegiatan, dan layanan perpustakaan secara transparan. Kami ingin masyarakat merasa bahwa perpustakaan adalah bagian dari kebutuhan hidup mereka sehari-hari," tegas Joko.
Ia menambahkan bahwa peran humas di perpustakaan daerah saat ini dituntut untuk lebih adaptif. Mengingat perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat, perpustakaan daerah harus mampu memanfaatkan platform media sosial dan kanal digital lainnya untuk berinteraksi langsung dengan pemustaka. Perpusnas ke depannya berkomitmen untuk memberikan pendampingan atau sharing session kepada humas-humas di perpustakaan daerah mengenai teknik komunikasi publik yang efektif, agar standar kualitas pelayanan informasi dapat merata di seluruh wilayah Indonesia.
Transformasi komunikasi publik yang diusung oleh Perpusnas ini sejalan dengan visi besar pemerintah dalam mewujudkan keterbukaan informasi publik sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang. Dengan adanya penghargaan AHI 2026, diharapkan tercipta kompetisi yang sehat antar-perpustakaan daerah untuk berlomba-lomba dalam kreativitas. Perpustakaan yang mampu mengomunikasikan fungsinya dengan baik akan lebih mudah mendapatkan dukungan dari masyarakat, pemerintah daerah, maupun pemangku kepentingan lainnya.
Selain itu, keberhasilan ini juga diharapkan dapat mengubah paradigma masyarakat mengenai perpustakaan. Selama ini, sebagian masyarakat masih menganggap perpustakaan sebagai entitas yang statis. Melalui narasi yang dibangun oleh humas yang aktif, perpustakaan akan terlihat sebagai pusat peradaban yang dinamis, adaptif, dan responsif terhadap isu-isu terkini. Hal ini tentu akan berdampak pada peningkatan angka kunjungan, baik secara fisik maupun daring, ke berbagai perpustakaan di seluruh Indonesia.
Perpusnas juga berkomitmen untuk terus berinovasi dalam program kehumasannya. Penghargaan Bronze Winner ini bukanlah titik akhir, melainkan titik balik untuk mengevaluasi dan meningkatkan standar komunikasi yang telah ada. Ke depan, Perpusnas akan mendorong integrasi data dan informasi dari perpustakaan daerah ke dalam jaringan informasi nasional yang lebih terpadu. Dengan demikian, masyarakat di daerah terpencil sekalipun dapat mengakses informasi tentang kegiatan literasi yang sedang berlangsung di pusat maupun daerah lain.
Di sisi lain, ajang AHI 2026 juga menyoroti pentingnya etika berkomunikasi bagi instansi pemerintah. Dalam konteks perpustakaan, etika ini berkaitan dengan bagaimana menyampaikan pesan yang benar, objektif, dan tidak menyesatkan, terutama di tengah maraknya penyebaran hoaks. Perpusnas membuktikan bahwa dengan menjaga kredibilitas dan transparansi, sebuah lembaga dapat membangun kepercayaan publik (public trust) yang sangat kuat.
Sebagai penutup, keberhasilan Perpusnas di ajang AHI 2026 ini memberikan pesan kuat bahwa humas bukan sekadar pendukung atau pelengkap organisasi, melainkan garda terdepan dalam membangun citra positif dan memberikan edukasi kepada masyarakat. Bagi perpustakaan daerah, ini adalah undangan untuk berbenah dan mulai menyusun strategi komunikasi yang lebih kreatif. Dengan sinergi antara Perpusnas sebagai pusat dan perpustakaan daerah sebagai ujung tombak di lapangan, visi untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang literat dan terinformasi dengan baik akan lebih mudah tercapai. Ke depan, semangat ini diharapkan terus membara, menjadikan perpustakaan bukan hanya sebagai tempat membaca, tetapi sebagai jantung dari kemajuan bangsa melalui arus informasi yang cerdas dan transparan.
